Minggu, 13 November 2016

KERAJAAN MINANGA SEPENINGGAL DA PUNTA HYANG ABAD KE 6 MASEHI

KERAJAAN MINANGA SEPENINGGAL DA PUNTA HYANG ABAD KE 6 MASEHI

sepeninggal DA PUNTA HYANG ATAU SRI JAYA NACA putra penguasa di kerajaan MINANGA yang bernama SRI JAYA NAGA. berada pada zaman ke emasannya. dimana pada masa itu tiada peperangan yang hebat. rakyat hidup makmur, tenang dan tentram, di situlah para datuk datuk dan raja - raja menyusun undang - undang dan mengembangkan perniagaannya.

para suku bangsa minanga atau lebih di kenal suku bangsa melayu = meladju.. telah berhasil berdagang hingga hindia dan timur tengah. mereka pulang kembali dengan berbagai barang dagangan yang baru dan juga informasi - informasi baru

dimana mereka sudah mulai mengenal sebuah agama baru yaitu ISLAM.. yang telah lahir di negeri ARAB.
dan sebagian dari mereka telah ada yang memeluk islam.

selama kurun waktu 1 abad kerajaan MINANGA tenang dan damai.

Lokasi kerajaan MINANGA TAMWAN

Ada beberapa pendapat sejarawan mengenai lokasi Minanga. Poerbatjaraka dan Soekmono berpendapat bahwa Minanga terletak di hulu Sungai Kampar, tepatnya dipertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri.[4] Poerbatjaraka juga mengatakan bahwa kata Minangatamwan merupakan nama lama dari Minangkabau.[5] Dr. Buchari mengemukakan bahwa Minanga berada di hulu Batang Kuantan.[6] Sedangkan Slamet Muljana menyatakan bahwa Minanga berada di hulu Sungai Batanghari.


kembali ke  sejarah cina, setelah kehancuran kekaisaran cina dan cina terbagi menjadi 3 negara,
kerajaan cina yang terkenal sebagai kerajaan perang, tidak lagi mampu melakukan peperangan keluar negara. mereka sibuk berperang sesama mereka.
dan akhirnya dinasti JIN berhasil menyatukan 3 negara tersebut kembali.
dan semasa dinasti JIN berkuasa, telah terjadi perkawinan yang sangat besar antara penguasa kerajaan MINANGA dengan DINASTI JIN masa itu, dan telah melahirkan seorang putra yang mendirikan sebuah kerajaan yang sangat besar yaitu SRIWIJAYA.

setelah bergantinya dinasti JIN di awal abad ke 7 di tanah nusantara telah banyak bermunculan kerajaan - kerajaan baru

sementara di cina, dinasti tang menjadi penguasa baru
Dinasti Tang (Tionghoa: ; Pinyin: Táng Cháo; Wade–Giles: T'ang Ch'ao; pertama 618–690 & kedua 705–907), dalam romanisasi Wade-Giles ditulis Dinasti T‘ang, adalah salah satu dinasti Tiongkok yang menggantikan Dinasti Sui dan mendahului periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan. Dinasti ini didirikan oleh keluarga Li (李), yang mengambil alih kekuasaan pada masa kemunduran dan keruntuhan Sui. Keberlangsungan dinasti ini sempat terganggu saat Maharani Wu Zetian mengambil alih tahta dan memproklamirkan berdirinya dinasti Zhou Kedua (690–705), dan menjadi satu-satunya kaisar perempuan dalam sejarah Tiongkok.
Dinasti Tang, dengan ibukota di Chang'an (kini Xi'an) yang saat itu merupakan kota terpadat di dunia, dianggap sebagai salah satu titik tertinggi dalam sejarah Tiongkok: sebuah zaman keemasan budaya kosmopolitan. Luas wilayahnya, yang diperoleh melalui kampanye militer penguasa-penguasa awalnya, menyaingi luas dinasti Han. Berdasarkan dua sensus pada abad ke-7 dan abad ke-8, catatan-catatan Tang memperkirakan jumlah penduduk sekitar 50 juta jiwa.[2][3] Pada abad ke-9, karena pemerintah pusat sedang mengalami kejatuhan dan tidak dapat mengadakan sensus yang akurat, diperkirakan jumlah penduduk Tang tercatat sekitar 80 juta jiwa.[4][5][a] Dengan jumlah penduduk yang besar, dinasti ini dapat mengumpulkan para ahli dan ratusan ribu tentara untuk melawan kekuatan-kekuatan nomaden yang mendominasi Asia Dalam dan Jalur Sutra. Berbagai kerajaan dan negara membayar upeti kepada Tang, sementara Tang juga menaklukkan atau menundukkan beberapa wilayah yang dikendalikan secara tidak langsung melalui sistem protektorat. Selain hegemoni politik, pengaruh budaya Tang juga terasa kuat di negara-negara tetangga seperti Korea, Jepang, dan Vietnam.
Periode Tang pada umumnya merupakan periode kemajuan dan stabilitas, kecuali saat Pemberontakan An Lushan dan kemunduran otoritas pusat pada masa akhir dinasti ini. Seperti Dinasti Sui, Dinasti Tang memiliki sistem perekrutan pegawai negeri melalui ujian masuk standar. Tatanan ini terganggu oleh kemunculan gubernur-gubernur militer regional yang disebut jiedushi pada abad ke-9. Sementara itu, budaya Tiongkok berkembang dan semakin matang pada masa Tang; masa ini juga dianggap sebagai masa terbesar untuk puisi Tiongkok.[6] Dua dari penyair terkenal Tiongkok, Li Bai dan Du Fu, berasal dari masa ini, dan juga berbagai pelukis terkenal seperti Han Gan, Zhang Xuan, dan Zhou Fang. Selain itu, terdapat berbagai sastra sejarah yang disusun oleh para ahli, dan juga ensiklopedia dan karya geografi.
Terdapat berbagai inovasi penting pada masa Dinasti Tang, seperti perkembangan percetakan blok kayu. Buddhisme pada masa ini berpengaruh besar terhadap budaya Tiongkok, dan sekte-sekte Buddhisme Tiongkok terus berkembang. Namun, Buddhisme nantinya akan ditindas oleh negara, sehingga pengaruhnya menurun. Meskipun dinasti dan pemerintah pusat mengalami kemunduran pada abad ke-9, seni dan budaya tetap berkembang. Walaupun pemerintah pusat yang melemah tidak lagi dapat mengatur ekonomi, perdagangan masih tetap berjalan.