Sabtu, 20 Mei 2017

MINANGKABAU DALAM DISKUSI 2

MASIH DALAM DISKUSI SEJARAH MINANGKABAU

kita telah mengenal nama MINANGKABAU jauh sebelum kita lahir, di zaman nenek dan kakek kita juga telah mengenal nama minangkabau, jadi nama minangkabau sudah begitu lama kiranya,
lantas apa sebenarnya makna minangkabau itu? apakah sebuah kerajaan atau suku bangsa atau sebuah wilayah?

mari kita diskusikan di sini :

GUNUNG SAILAN MENJEMPUT RAJA...

“ Datuk Nyato dirajo sang diplomat”

Datuk Nyato Dirajo adalah pucuk rantau Negeri Domo Kekhalifaan Kuntu, pada masa kurun abad ke 16 masehi pucuk Rantau Negeri Domo bernama Datuk Andomo. Pada masa ini Datuk-datuk Serantau Kampar Kiri sudah bersepakat untuk berdiri sendiri dalam wadah suatu kerajaan. Setelah kesepakatan di buat maka para datuk bersepakat untuk memintah seorang anak Raja Asli dari Raja Pagaruyuang untuk dirajakan di rantau Kampar Kiri.
Maka Datuk Senjayo penjaga batas dari Mentulik, kemudian menjadi delegasi dari Luak Subayang untuk menghadap ke Istana raja Pagaruyuang. Setibah di istana raja maka disampaikanlah maksud dan tujuan kedatangan Bangsawan Kampar Kiri ini, yaitu untuk memintah seorang anak raja yang asli keturunan Daulat Raja Pagaruyuang, dimana anak tersebut akan menjadi “ Bijo ” atau cikal Raja bagi kerajaan Gunung Sailan.
Setelah mendengar maksud kedatangan delegasi Pembesar Rantau Kampar Kiri yang di kepalai oleh Datuk Senjayo. Maka Raja Pagaruyuang kemudian mengiyakan dan merestui keinginan Datuk-datuk dari Kampar Kiri tersebut. Adapun mengenai permintaan untuk membawah seorang anak raja yang asli (laki-Laki) ke Rantau Kampar Kiri, Raja Pagaruyuang waktu itu juga memberikan restunya, silakan ambil dan bawahla ke Kampar Kiri. Kemudian Raja Pagaruyuang menunjuk kepada halaman istana Pagaruyuang waktu itu dan berkata “ di sana ada sekumpulan anak-anak raja Pagaruyuang” ambillah satu dan bawahla ke Negeri Tuan-tuan.
Menurut hikayat para tetua adat, pada waktu itu di halaman istana ada sekitar 40 orang anak laki-laki yang sedang bermain-main, maka Raja Pagaruyuang mempersilakan untuk mencari dan memilih sendiri anak mana yang disukai oleh para Datuk untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri. Melihat kesempatan ini maka Datuk Besar ketua delegasi Masyaraakat Kampar Kiri kemudian memilih seorang anak Raja yang paling bagus dan elok raut mukanya. Anak tersebut diambil lalu dibawah ke Rantau Kampar Kiri, lalu di duduk kan diatas tahta di Negeri Gunung Sailan.
Sebelum di Nobatkan menjadi Raja, maka anak raja yang dijemput tadi dilakukan upacara sembah raja. Dimana seluruh Datuk pembesar rantau menyembah anak raja tersebut, sebagai wujud Baiat mereka atas kepemimpinan Raja baru. Akan tetapi setelah dilakukan upacara sembah Raja, Sang Anak Bijo Raja tersebut tiba-tiba sakit, tidak beberapa lama kemudian sang anak menginggal dunia.
Kejadian ini membuat gempar Rakyat serantau Kampar Kiri, dimana raja yang dijemput kepagaruyuang tiba-tiba wafat tak tahan sembah. Maka bermusyarahlah kembali para datuk Pembesar Rantau dimana dalam Musyawarah itu didapat kata sepakat bahwa jika anak Raja tersebut wafat tak tahan sembah, berarti anak tersebut bukan anak raja yang asli dari kerajaan Pagaruyuang.
Maka diutuslah delegasi kedua yang dikepalai oleh Datuk Singo rajo Dibanding, kembali menghadap Raja Daulat Pagaruyung, dengan maksud yang sama yakni memintah anak raja yang asli untuk dijadikan raja di Gunung Sailan. Setibah di istana Raja Pagaruyuang jawaban Raja tetap sama yakni silakan dipilih dari sekumpulan anak raja Pagaruyuang yang ada. Kemudian Datuk Singo Rajo Dibanding kembali memilih seorang anak yang menurut hemat dan pertimbangan beliau ini adalah anak raja yang asli. Setelah dapat maka dibawahlah kerantau Kampar Kiri, sebelum sampai di Gunung Sailan disuatu tempat maka berhentilah datuk Singo dan pengiring nya dan kemudian menghampiran sang Raja Muda Pagaruyuang tersebut, kemudian bertanya apakah tuan muda adalah anak raja Pagaruyuang..? maka sang anak tersebut mengangguk. Lalu datuk Singo kembali memastikan agar kejadian pertama tidak terulang kembali, apakah tuan muda, benar-benar anak Raja asli/kontan raja Pagaruyuang. Mendengar pertanyaan tersebut maka tuan muda dari Pagaruyuang ini kemudian menggeleng.
Mendengar jawaban sang Tuan muda dari Pagaruyuang maka bingunglah datuk Singo, maka tuan Muda ini diberi gelar “ Rajo Ongguak –Geleng”. Untuk memastikan bahwa anak ini bisa untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri, maka diadakanlah kembali upacara “sembah Raja” jika benar dia anak Raja asli Pagaruyung asli pasti tahan sembah, kata sang Datuk. Setelah upacara sembah raja, tidak berapa lama sang tuan muda menderita sakit perut, tidak lama kemudian tuan Muda dari Pagaruyuang ini juga mennggal duni. Maka bertambah bingunglah para pembesar Rantau Kampar Kiri, dua kali menjemput Raja, kedua-duanya berakhir dengan kegagalan.
Maka dengan tekad bulan, sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang, maka diadakan musyawarah kembali dan dibentuklah delegasi ketiga, untuk memimpin delegasi ketiga ini kemudian diserahkan kepada Datuk Andomo, yakni pucuk Rantau Negeri Domo, Kekhalifaan Kuntu. Maka berangkatlah sang Datuk pembesar rantau Kampar Kiri ini kembali ke Istana Raja Pagaruyung dengan tekad akan mendapatkan seorang anak Raja yang asli keturunan Raja Pagaruyuang.
Setelah sampai di Pagaruyuang, sang datuk Andomo tidak lansung ke istana Raja, tetapi sang datuk pergi kepasar dan membeli setandan pisang. Lalu dipikullah pisang tersebut ke istana Raja Pagaruyung, setelah tiba di halaman istana, maka dipanggillah semua anak-anak yang bermain dihalaman istana dan diberikan pisang ( diumbuok dengan pisang). Anak-anak kemudian ramai berebut pisang sang datuk, sambil membagikan pisang sang datuk mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tersebut, maka anak raja Pagaruyuang yang sebenarnya. Maka anak-anak tersebut dengan polosnya menunjuk kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pingir lahaman istana. Anak tersebut tidak ikut berebut pisang sang datuk.
Maka Datuk Andomo memperhatikan gaya anak-anak istana ini memakan pisang, ada yang lansung dibuka dan dibuang kulitnya. Kemudian buah pisang lansung dimakan oleh anak-anak tersebut, beragam cara memakan pisng anak-anak istana ini. Kemudian sang datuk mendatangi anak yang duduk dipinggir halaman dan memperhatikan sang anak ini. Secara lahiriah sang anak terkesan biasa-biasa saja , bahkan dilihat dari kulit sang anak berwarna agak hitam dan rupa yang tidak terlalu tampan. Secara lahiriah tentu sang Datuk tidak begitu yakin jika sang anak ini Tuan Muda yang sebenarnya dari kerajaan Pagaruyuang.
Maka sang Datuk Andomo kemudian mempersembahkan buah pisang yang dibawah nya kepada tuan muda Pagaruyuang ini, pemberian sang datuk diterima oleh sianak. Kemudian sang tuan muda ini membuka kulit pisang selembar demi selembar dan menyisahkan bahagian bawahnya, karena bagian bawah itu adalah tempat untuk memakan pisang secara berlahan. Cara ini disebut dengan tata cara santap istana yakni disebut “ Kubak Ajo”. Melihat tatakrama sang tuan muda Pagaruyuang ini maka yakinlah sang datuk Kampar Kiri bahwa memang tuan bujang hitam inilah anak Raja yang asli dari Dinasti Raja Pagaruyuang.
Kemudian sang Datuk Kampar Kiri ini , kembali menemui Raja Pagaruyung dengan tujuang yang sama dengan dua delegasi terdahulu yakni untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan lansung dari Raja Pagaruyuang untuk dirajakan di Kampar kiri. Sebagaian mana jawaban terdahulu seperti itulah jawaban raja Pagaruyuang yakni mempersilahkan Datuk Andomo untuk memilih seorang anak , dari halaman istana Pagaruyung.
Dengan diberikan izin tersebut, maka dengan cekatan Datuk Andomo bergerak menuju tuan Muda Hitam tersebut mengapit tangannya dan membawah Sianak kehadapan Raja Pagaruyuang, sambil berkata bahwa dia akan membawah anak ini ke Gunung Sailan untuk dijadikan Raja di kampar Kiri. Melihat kejadian ini maka terkejutlah sang Raja Pagaruyuang, melihat anak laki-laki satu satunya sudah berada dalam gengaman tangan datuk Andomo dari kampar Kiri. Malang tak dapat ditolak, munjur tak dapat di raih, kata izin telah keluar dari mulut tuanku Raja, tentu pantang untuk menjilat ludah yang telah terlajur dibuang. Maka Sang Raja mengiyakan permintaan Datuk Andomo dari Kampar Kiri.
Kemudian setelah semua perlengkapan sudah siap di depan istana pagaruyung maka Datuk Andomo kemudian akan turun dari istana Pagaruyuang membawa sang Tuan Muda untuk dijadikan Raja di Rantau. Melihat kejadian tersebut maka terseraklah tagis di tengah istana, dimana ibu sang Raja Bujang menagis meraung menyaksikan putra tunggalnya di jemput terbawah oleh Datuk-datuk dari kampar kiri. Melihat kejadian tersebut bertambah yakinlah Sang datuk Andomo bahwa yang terbawa adalah Anak Raja Asli Pagaruyuang. Dengan senyum kemenangan Sang Datuk Andomo kemudian meninggalkan Istana Pagaruyuang kembali Ke Gunung Sailan.
Setibah di Gunung Sailan Kampar Kiri, maka segeralah diadakan acara nobat Raja melalui acara sembah Raja dan pembacaan Sumpah setia di Muarabio tepatnya di pulau Angkako. Maka jadilah Tuan Bujang Pagaruyuang sebagai Raja pertama kerajaan Gunung Sailan Kampar Kiri.
Kecerdikan Datuk Andomo dalam bersiasat untuk mendapatkan anak raja yang asli dari Pagaruyung ini menjadi legenda turun temurun di Rantau Kampar Kiri. Sehingga Datuk Andomo pucuk Rantau Negeri Domo memperoleh kehormatan sebagai orang Besar Raja Gunung Sailan dengan gelar Datuk Nyato Dirajo, yakni sebagai mentri untuk urusan pemerintahan dalam negeri.
Catatan penulis : Menurut hikayat tambo Kampar Kiri, sumpah sotie ini dibawah oleh Raja Mangiang ke kampar kiri dari Pagaruyuang. sumpah setia ini mengambil dasar dari sumpah setia Khadam poghiek di tanah pariangan. sumpah sotie ini adalah perjanjian antara Datuk Besar Khalifah kampar Kiri dan Datuk Godang (mamak pisoko rajo gunung Sailan) mewakili Rajo Mangiang yang masih kecil dengan 13 orang Datuk delegasi dari 13 Koto serantau Subayang..perjanjian ini disepakati di Pangkalan Tuo/ Pangkalan serai oleh Datuk Bandaro hitam pada abad ke 16 masehi. bunyi sumpah setia ini dibacakan di pulau Angkako di Muara Bio, tetapi di perjanjian ini di tulis Muara Subangi ( negeri Domo). dibawah Datuk Khalifah Kuntu Datuk Rajo Godang/ Datuk bandaro sekarang.
Sumber :
1. Di sarikan dari diskusi lepas denga tokoh-tokoh adat Kampar kiri tentang tambo alam Minangkabau, Pagaruyung dan Gunung Sailan.
2. Tambo Adat Manyigi Tambo Adat Kampar Kiri Dalam Minangkabau, oleh H. Munir Junu Datuk Bandaro.

Kisah di atas di salin dari tulisan saudara  Zaldi Ismet https://www.facebook.com/profile.php?id=100001476524796&fref=nf

silahkan post comment dan inputnya di sini

MINANGKABAU DALAM DISKUSI 1

KERAJAAN - KERAJAAN DI MINANGKABAU

nama minangkabau begitu terkenal sehingga di se antero dunia, tapi di saat kita menanyakan dimana kerajaan minangkabau... kita bertemu dengan kebuntuan dan banyaknya kisah tentangnya.

sebuah misteri yang begitu dalam sedalam lautan, tiada ter ukur lagi.
kita pun mengenal istilah DI KAMBANGAN SALEBA ALAM, KOK DI GULUANG SALEBA KUKU yang mempunyai makna apabila di KAMBANGAN ( KEMBANGKAN ) di ceritakan secara detil akan memerlukan waktu yang banyak untuk menjelaskan dan menjabarkannya, dan makna DI GULUANG SALEBA KUKU ( DI GULUNG SELEBAR KUKU ) adalah sebuah kisah atau penjabaran yang di simplekan.
dengan kondisi yang sedemikian itu kita berusaha menjabarkan sekemampuan kita dan dari data data serta kisah kisah yang dapat penulis simpulkan dan kumpulkan. selebih nya adalah hak Tuhan dalam rahasia alam terdahulunya.

KISAH MISTERI LELUHUR MINANGKABAU
Berdasarkan Tambo Alam Minangkabau, semasa pemerintahan Datuk Suri Diraja di Nagari Pariangan, datanglah Rusa Emas dari Lautan, rusa itu kemudian dapat dijerat oleh datuk.
Cerita ini sejatinya adalah kiasan dari datangnya seorang raja bermahkota dari Wangsa Syailendra, yang menyingkir ke Gunung Marapi.  Di Pariangan sang bangsawan ini dikawinkan dengan adik Datuk Suri Diraja dan kemudian dirajakan dengan gelar Sri Maharaja Diraja (sumber : Asal Muasal Pagaruyung).
minang1
 
Sri Maharaja Diraja, dalam Hikayat Palembang
Dalam Hikayat Palembang, selepas Kedatuan Sriwijaya tepecah akibat serangan Kerajaan Chola tahun 1025 M, muncul Kerajaan Bukit Siguntang di wilayah Palimbang. Penguasa Bukit Siguntang dikenal dengan nama Maharaja Sulan (Raja Segentar Alam).
Maharaja Sulan diperkirakan memerintah pada sekitar tahun 1070an Masehi, dikemudian hari memeluk Islam atas upaya dakwah Puyang Sungai Ogan “Wali Putih”, sang Raja kemudian juga dikenali dengan nama Iskandar Zulqarnain Syah Alam

(sumber : Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ? dan [Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?).

Maharaja Sulan memiliki 2 orang anak, bernama Raja Alim dan Raja Mufti. Sepeninggal Maharaja Sulan, putera beliau Raja Alim menggantikannya. Setelah beberapa lama memerintah, Raja Alim wafat, kerabat Istana kemudian mengangkat puteranya Raja Alim II sebagai penguasa.
Pengangkatan Raja Alim II ini mendapat protes dari pamannya Raja Mufti, karena dianggap tanpa melalui kesepakatan dalam musyawarah. Dalam upaya menghindari perang saudara Raja Alim II, bersama para pendukungnya hijrah ke pedalaman.

Keberadaan Raja Alim II inilah kemudian dicatat dalam Tambo Alam Minangkabau, sebagai Bangsawan dari Wangsa Syailendra, yang kemudian menurunkan para penguasa di negeri Minang.
Sri Maharaja Diraja, Leluhur Lareh Suku Piliang

Berdasarkan Ranji Tambo Alam Minangkabau, yang dibuat oleh Drs. Mid Jamal, Sri Maharaja Diraja memerintah Kerajaan Pariangan pada masa 1127-1149. Ia tercatat memiliki 3 orang istri, yaitu : Puti Indo Jelita, Puti Cinto Dunie dan Puti Sidayu.
Dari istrinya Puti Indo Jelito, Sri Maharaja Diraja memiliki putera Sutan Paduko (Datuk Ketumanggungan), yang kelak menurunkan 8 Suku dalam Lareh Suku Piliang

(sumber : Tambo Alam Minangkabau).
stempel 
Bersumber dari Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii, ditemukan stempel Datuk Ketumanggungan, yang menggunakan aksara arab-melayu (sumber : stempel minang).
Disinyalir Datuk Ketumanggungan dan ayahnya Sri Maharaja Diraja telah beragama Islam, dan hal ini sangat wajar, mengingat kakek mereka Raja Sulan adalah seorang muslim dengan gelar “Iskandar Zulqarnain Syah Alam”.

palembang19b
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :
1. Diagram Time Line, dengan pedoman kepada susunan silsilah, yang dibuat oleh Drs Mid Jamal (Link) :
timelinedata1
2. Silsilah Kerajaan Melayu, dengan mengambil sumber dari berbagai daerah, sekaligus merevisi beberapa data silsilah dalam artikel…





SUMBER ( https://kanzunqalam.com/2017/01/20/misteri-sri-maharaja-diraja-leluhur-masyarakat-minangkabau/ )

Rabu, 08 Februari 2017

KERAJAAN - KERAJAAN AWAL DI INDONESIA - NUSANTARA

KERAJAAN - KERAJAAN AWAL DI INDONESIA - NUSANTARA

mari kita mengenal kerajaan kerajaan awal yang lahir setelah zaman es mencair atau di awal abad masehi, untuk memperkaya wawasan dan pengingat akan sejarah masa lampau

ABAD KE 1 MASEHI

SUMATERA
1. kerajaan KANDIS ( -1 M s/d 2 M )
2. kerajaan PASUMAYAM KOTO BATU ( 1M - 2M )
3. kerajaan BARUS

JAWA
1. kerajaan SALAKA NAGARA ( 1M - 2M )

ABAD KE 2 MASEHI
SUMATERA
1. kerajaan MUARO JAMBI - MELAYU TUA ( 2M - 3M )
2. kerajaan PARIANGAN ( 2M - 3M )
3. kerajaan KOTO ALANG - kandis ( 2M )
4. kerajaan PINANG MASAK - kandis ( 2M )
5. kerajaan KANCIL PUTIH - kandis ( 2M )

JAWA
1. kerajaan TARUMA NAGARA ( 2M - 4M )
2. kerajaan AGNI ( 2M )

ABAD KE 3 MASEHI
SUMATERA
1. kerajaan BUNGO SETANGKAI
2. kerajaan DUSUN TUO
3. kerajaan KANTOLI - KUNTALA
4. kerajaan BUKIT BATU PATAH

KALIMANTAN
1.kerajaan KUTAI

JAWA
1. kerajaan TARUMA NAGARA
2. kerajaan SUNDA





Selasa, 15 November 2016

MINANGA ( MALAYU ) - SRIWIJAYA - CINA DI ABAD KE 7 MASEHI

MINANGA ( MALAYU ) - SRIWIJAYA - CINA DI ABAD KE 7 MASEHI

perkembangan kerajaan - kerajaan di nusantara selama tenggelamnya ke kaisaran cina begitu banyak dan hampir merata di seluruh nusantara, perdagangan pun kian membaik, perdagangan yang di dominasi oleh para pedagang dari minanga ( maladju - malaju - molouyu - melayu - malaya ) juga pedagang dari malayu sriwijaya memenuhi perairan laut di kawasan cina selatan, selat malaka, sehingga kawasan india, dimana mereka membawa informasi - informasi penting dan juga menyebarkan agama, juga telah terjadi percampuran ras dan suku yang kemudian menjadikan dinamika baru di nusantara, lahirnya suku - suku baru juga berpengaruh akan pertumbuhan kerajaan - kerajaan baru yang ada di nusantara yang bersumber dari suku bangsa malayu.

bersamaan dengan berdirinya kerajaan SRIWIJAYA di ABAD ke 6 MASEHI,
di selatan sumatera sekarang, dimana saat itu masih tersambungya pulau jawa dan sumatera. berdiri kerajaan AGNI atau kerajaan api yang letaknya di kawasan GUNUNG KRAKATAU sekarang ini.

BERDIRI JUGA KERAJAAN SALAKA NAGARA yang menjadikan nenek moyang bagi SUKU BANGSA SUNDA
Pendiri Salakanagara, Dewawarman adalah duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India) yang akhirnya menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat, sedangkan pendiri Tarumanagara adalah Maharesi Jayasingawarman, pengungsi dari wilayah Calankayana, Bharata karena daerahnya dikuasai oleh kerajaan lain. Sementara Kutai didirikan oleh pengungsi dari Magada, Bharata setelah daerahnya juga dikuasai oleh kerajaan lain.
Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang. Adalah Aki Tirem, penghulu atau penguasa kampung setempat yang akhirnya menjadi mertua Dewawarman ketika puteri Sang Aki Luhur Mulya bernama Dewi Pwahaci Larasati diperisteri oleh Dewawarman. Hal ini membuat semua pengikut dan pasukan Dewawarman menikah dengan wanita setempat dan tak ingin kembali ke kampung halamannya.
Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima tongkat kekuasaan. Tahun 130 Masehi ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan dengan nama Salakanagara (Negeri Perak) beribukota di Rajatapura. Ia menjadi raja pertama dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Beberapa kerajaan kecil di sekitarnya menjadi daerah kekuasaannya, antara lain Kerajaan Agnynusa (Negeri Api) yang berada di Pulau Krakatau.
Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII). Salakanagara berdiri hanya selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau raja Salakanagara terakhir hingga tahun 363 karena sejak itu Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India bernama Jayasinghawarman. Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.
Sementara Jayasinghawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Calankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya.
Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah.
Memang banyak para ahli yang masih memperdebatkan masalah institusi kerajaan sebelum Tarumanegara melalui berbagai sumber sejarah seperti berita Cina dan bangsa Eropa atau naskah-naskah Kuna. Claudius Ptolemaeus, seorang ahli bumi masa Yunani Kuno menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè yang terletak di wilayah Timur Jauh. Negeri ini terletak di ujung barat Pulau Iabodio yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian diasumsikan sebagai Jawa. Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai Merak.
Kemudian sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 132 Mmenyebutkan wilayah Ye-tiao  yang sering diartikan sebagai Yawadwipa dengan rajanya Pien yang merupakan lafal Cina dari bahasa Sangsakerta Dewawarman. Namun tidak ada bukti lain yang dapat mengungkap kebenaran dari dua berita asing tersebut.

dari salaka nagara kemudian menyusul kerajaan TARUMA NAGARA di abad ke 3 masehi dan mulai di kenal di abad ke 4 MASEHI. sebagai sebuah kerajaan besar di kawasan jawa  atau jaba ( luar ).

di kalimantan telah tumbuh pula sebuah kerajaan bernama KUTAI 
Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam.[2][3] Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh. ( di copy dari wikipedia )

kekuasaan dari KERAJAAN SRIWIJAYA dimasa itu dengan pengaruh BUDHA nya begitu kuat menguasai kawasan nusantara, pengaruhnya hingga di kawasan thailand, siam dan india, dan para prajurit lautnya adalah yang paling di takuti di kawasan asia masa itu.
dan banyak para sastrawan, biksu dan utusan - utusan dari kerajaan - kerajaan lain memasuki kawasan nusantara hanya untuk belajar, bagaimana kerajaan sriwijaya mengembangkan kerajaannya.
dimana dengan ke adaan tenang dan damai, kerajaan sriwijaya telah mampu melahirkan banyak ide - ide pemerintahan dan pendidikan, majunya perdagangan, pertanian dan juga kesusastraan serta agama.. membuat kerajaan sriwijaya makin masyur masa itu.

berbeda dengan KERAJAAN MINANGA yang dengan ketenangan nya berada di kawasan pedalaman SUMATERA / PULAU PERCA / SWARNABHUMI lebih dapat bertahan dengan kebudayaan hindunya, walaupun sebagian dari kerajaan - kerajaan kecil di pesisir telah banyak terpengaruh dengan agama budha, tetapi mereka masih setia dengan kerajaan MINANGA.

sementara itu DINASTI TANG di cina telah berhasil menyatukan CINA yang sebelumnya terpecah belah, di bawah kekaisaran TAIZONG cina kembali memperbaiki diri dari kondisi buruk selama ber abad - abad lamanya. lihat di dinasti TANG
dengan kondisi di abad ke 7 ini membuat para pedagang arab dan parsi sedikit kesulitan berdagang di kawasan nusantara yang di dominasi pedagang ber agama budha.

sehingga sebuah percobaan penyerangan ke kerajaan SRIWIJAYA yang di lakukan oleh KERAJAAN COLOMANDEL dari india yang ber agama hindu, tidak berhasil mengalahkan SRIWIJAYA masa itu.


Minggu, 13 November 2016

KERAJAAN MINANGA SEPENINGGAL DA PUNTA HYANG ABAD KE 6 MASEHI

KERAJAAN MINANGA SEPENINGGAL DA PUNTA HYANG ABAD KE 6 MASEHI

sepeninggal DA PUNTA HYANG ATAU SRI JAYA NACA putra penguasa di kerajaan MINANGA yang bernama SRI JAYA NAGA. berada pada zaman ke emasannya. dimana pada masa itu tiada peperangan yang hebat. rakyat hidup makmur, tenang dan tentram, di situlah para datuk datuk dan raja - raja menyusun undang - undang dan mengembangkan perniagaannya.

para suku bangsa minanga atau lebih di kenal suku bangsa melayu = meladju.. telah berhasil berdagang hingga hindia dan timur tengah. mereka pulang kembali dengan berbagai barang dagangan yang baru dan juga informasi - informasi baru

dimana mereka sudah mulai mengenal sebuah agama baru yaitu ISLAM.. yang telah lahir di negeri ARAB.
dan sebagian dari mereka telah ada yang memeluk islam.

selama kurun waktu 1 abad kerajaan MINANGA tenang dan damai.

Lokasi kerajaan MINANGA TAMWAN

Ada beberapa pendapat sejarawan mengenai lokasi Minanga. Poerbatjaraka dan Soekmono berpendapat bahwa Minanga terletak di hulu Sungai Kampar, tepatnya dipertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri.[4] Poerbatjaraka juga mengatakan bahwa kata Minangatamwan merupakan nama lama dari Minangkabau.[5] Dr. Buchari mengemukakan bahwa Minanga berada di hulu Batang Kuantan.[6] Sedangkan Slamet Muljana menyatakan bahwa Minanga berada di hulu Sungai Batanghari.


kembali ke  sejarah cina, setelah kehancuran kekaisaran cina dan cina terbagi menjadi 3 negara,
kerajaan cina yang terkenal sebagai kerajaan perang, tidak lagi mampu melakukan peperangan keluar negara. mereka sibuk berperang sesama mereka.
dan akhirnya dinasti JIN berhasil menyatukan 3 negara tersebut kembali.
dan semasa dinasti JIN berkuasa, telah terjadi perkawinan yang sangat besar antara penguasa kerajaan MINANGA dengan DINASTI JIN masa itu, dan telah melahirkan seorang putra yang mendirikan sebuah kerajaan yang sangat besar yaitu SRIWIJAYA.

setelah bergantinya dinasti JIN di awal abad ke 7 di tanah nusantara telah banyak bermunculan kerajaan - kerajaan baru

sementara di cina, dinasti tang menjadi penguasa baru
Dinasti Tang (Tionghoa: ; Pinyin: Táng Cháo; Wade–Giles: T'ang Ch'ao; pertama 618–690 & kedua 705–907), dalam romanisasi Wade-Giles ditulis Dinasti T‘ang, adalah salah satu dinasti Tiongkok yang menggantikan Dinasti Sui dan mendahului periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan. Dinasti ini didirikan oleh keluarga Li (李), yang mengambil alih kekuasaan pada masa kemunduran dan keruntuhan Sui. Keberlangsungan dinasti ini sempat terganggu saat Maharani Wu Zetian mengambil alih tahta dan memproklamirkan berdirinya dinasti Zhou Kedua (690–705), dan menjadi satu-satunya kaisar perempuan dalam sejarah Tiongkok.
Dinasti Tang, dengan ibukota di Chang'an (kini Xi'an) yang saat itu merupakan kota terpadat di dunia, dianggap sebagai salah satu titik tertinggi dalam sejarah Tiongkok: sebuah zaman keemasan budaya kosmopolitan. Luas wilayahnya, yang diperoleh melalui kampanye militer penguasa-penguasa awalnya, menyaingi luas dinasti Han. Berdasarkan dua sensus pada abad ke-7 dan abad ke-8, catatan-catatan Tang memperkirakan jumlah penduduk sekitar 50 juta jiwa.[2][3] Pada abad ke-9, karena pemerintah pusat sedang mengalami kejatuhan dan tidak dapat mengadakan sensus yang akurat, diperkirakan jumlah penduduk Tang tercatat sekitar 80 juta jiwa.[4][5][a] Dengan jumlah penduduk yang besar, dinasti ini dapat mengumpulkan para ahli dan ratusan ribu tentara untuk melawan kekuatan-kekuatan nomaden yang mendominasi Asia Dalam dan Jalur Sutra. Berbagai kerajaan dan negara membayar upeti kepada Tang, sementara Tang juga menaklukkan atau menundukkan beberapa wilayah yang dikendalikan secara tidak langsung melalui sistem protektorat. Selain hegemoni politik, pengaruh budaya Tang juga terasa kuat di negara-negara tetangga seperti Korea, Jepang, dan Vietnam.
Periode Tang pada umumnya merupakan periode kemajuan dan stabilitas, kecuali saat Pemberontakan An Lushan dan kemunduran otoritas pusat pada masa akhir dinasti ini. Seperti Dinasti Sui, Dinasti Tang memiliki sistem perekrutan pegawai negeri melalui ujian masuk standar. Tatanan ini terganggu oleh kemunculan gubernur-gubernur militer regional yang disebut jiedushi pada abad ke-9. Sementara itu, budaya Tiongkok berkembang dan semakin matang pada masa Tang; masa ini juga dianggap sebagai masa terbesar untuk puisi Tiongkok.[6] Dua dari penyair terkenal Tiongkok, Li Bai dan Du Fu, berasal dari masa ini, dan juga berbagai pelukis terkenal seperti Han Gan, Zhang Xuan, dan Zhou Fang. Selain itu, terdapat berbagai sastra sejarah yang disusun oleh para ahli, dan juga ensiklopedia dan karya geografi.
Terdapat berbagai inovasi penting pada masa Dinasti Tang, seperti perkembangan percetakan blok kayu. Buddhisme pada masa ini berpengaruh besar terhadap budaya Tiongkok, dan sekte-sekte Buddhisme Tiongkok terus berkembang. Namun, Buddhisme nantinya akan ditindas oleh negara, sehingga pengaruhnya menurun. Meskipun dinasti dan pemerintah pusat mengalami kemunduran pada abad ke-9, seni dan budaya tetap berkembang. Walaupun pemerintah pusat yang melemah tidak lagi dapat mengatur ekonomi, perdagangan masih tetap berjalan.